Picture of dr Zico Paradigma
PERBEDAAN KADAR KREATININ DARAH SEBELUM DAN SETELAH PEMERIKSAAN IVP PADA PASIEN UROPATI OBSTRUKTIF DI RUMAH SAKIT DR MOEWARDI
by dr Zico Paradigma - Wednesday, 2 January 2019, 08:58 AM
 

Pencitraan merupakan komponen integral dari evaluasi urologi. Tidak dapat diaksesnya sebagian besar organ urogenital untuk pemeriksaan klinis dan gangguan patofisiologis kompleks yang mempengaruhi aspek struktural dan fungsional memerlukan pencitraan pada sebagian besar pasien (Thomson, 2009). Pyelografi Intravena (IVP), juga dikenal sebagai urografi ekskretoris (EU), atau Urografi intravena (IVU) dapat menunjukkan berbagai macam lesi saluran kemih, mudah dilakukan, dan ditolerir dengan baik oleh kebanyakan pasien (Smith, 1992). Selama beberapa dekade, urografi intravena telah menjadi modalitas pencitraan utama untuk evaluasi saluran kemih. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, modalitas pencitraan lainnya termasuk ultrasonografi (USG), computed tomography (CT), dan Magnetik Resonansi Imaging (MRI) telah digunakan dengan meningkatnya frekuensi untuk mengkompensasi keterbatasan urografi intravena dalam evaluasi penyakit saluran kemih (Dyer, 2001). Perlu diperhatikan bahwa pemakaian bahan kontras radiologi terutama yang nonionik dapat menimbulkan penurunan fungsi ginjal akibat iskemia, toksik maupun toksisitas vaskuler (Alwi, 2006).

Studi yang dilakukan oleh Teruel et all dimana dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal pada 124 pasien sebelum dan sesudah intravenous urografi, didapatkan peningkatan kadar Kreatinin pada kelompok renal insufisiensi sebanyak 55% dibandingkan kelompok tanpa renal insufisiensi sebanyak 15 % (Teruel, 1981). Namun demikian penelitian yang dilakukan oleh Newhouse et all menggunakan low osmolality contrast medium (LOCM) pada pemeriksaan IVP pada 200 pasien tidak didapatkan adanya peningkatan kadar Kreatinin setelah dilakukan pemeriksaan (Newhouse, 1994). Penelitian yang dilakukan di Chang Gung Memorial Hospital Taiwan membandingkan antara penggunaan iso-osmolar non-iodinated contrast medium (iodixanol) dengan low-osmolar contrast medium (iohexol) untuk pemeriksaan IVP pada 50 pasien. Didapatkan sebanyak 4% pasien mengalami peningkatan kadar kreatinin setelah pemeriksaan (Chuang, 2009). Disfungsi ginjal lebih jarang terjadi pada prosedur penggunaan kontras intravena dibandingkan dengan intraarteri (Moore,1992). Saat ini di RSUD dr Moewardi belum pernah dilakukan pemeriksaan kadar kreatinin setelah dilakukan pemeriksaan IVP. Oleh karena itu dibutuhkan penelitian perbedaan kadar kreatinin darah sebelum dan setelah pemeriksaan IVP pada pasien uropati obstruktif.


Link Fulltext :

https://mega.nz/#!Xh0XSCLC!RTKDwJB6K0nPxl4LwdjUdu3X6x1n536WgAVXNdCnGt4

Website :



Nama  : Fajar Triwibawa, dr
NIM  : S 561502001
Judul  : Perbedaan Kadar Kreatinin Darah Sebelum dan Setelah Pemeriksaan IVP Pada Pasien Uropati Obstruktif di RSUD Dr. Moewardi Surakarta

Pembimbing :
1. Wibisono, dr, SpU
2. Dr. Untung Alifanto, dr, SpBS

Penguji :
1. Setya Anton Tusarawardaya, dr, SpU
2. Nunik Agustriani, dr, SpB, SpBA
3. Dr. Ida Bagus Budi SA, dr, SpBKBD, MKes

Pada,
Hari/Tanggal : Kamis, 03 Januari 2019
Jam : 08.00 WIB
Tempat : Ruang Pertemuan Bedah Anggrek IV

Penanya Wajib :
1. Lesus Hario B, dr
2. Hanum Faeni, dr
3. Estiarla, dr