Picture of dr Zico Paradigma
PERBEDAANPEMBERIAN ANALGETIK KETOPROFENSUPPOSITORIA DAN KETOPROFEN INJEKSI INTRAVENA TERHADAP RASA NYERI PADA PASIEN PASCAHEMOROIDEKTOMI WHITEHEAD
by dr Zico Paradigma - Tuesday, 31 July 2018, 05:29 AM
 
A. Latar Belakang
​Dewasa ini bebas nyeri sudah menjadi hak asasi manusia, sehingga dokter harus mampu mengelola apapun penyebabnya,terutama nyeri pasca pembedahan, namun pengelolaan nyeri belum optimal dan sering diabaikan.Diperkirakan setengah dari prosedur pembedahan, penanganan nyeri tidak ditangani secara adekuat.Sekitar 80% pasien yang menjalani pembedahan mengalami nyeri akut pasca bedah.40 % pasien mengalami nyeri sedang dan berat selama 24 jam pertama pasca operasi (Apfelbaum, 2003).
​Hemoroid merupakan pelebaran pembuluh darah pada kanalis analis sejak berabad-abad yang lalu dan menjadibagian dari bedah kolorektal.Hemoroidektomi merupakan penatalaksanaan hemoroid (grade III dan grade IV atau setelah pengobatan non operatif tidak efektif)yang paling efektif dan sering kali menyebabkan nyeri pasca pembedahan (Goligher et al, 2009).Kelemahan operasi hemoroidektomi adalah nyeri pasca pembedahan, walaupun hal tersebut tidak mengancam nyawa, tetapi secara signifikan mengganggu kenyamanan pasien.
​Penggunaan obat secara suppositoria dengan efek lokal atau sistemik merupakan modalitas utama pengobatan.Penggunaan yang mudah dan penyerapan yang cepat adalah dua keuntungan utama dari pilihan terapi ini (Zakharash et al, 2005).
​Analgesik non-opioid efektif dalam pengobatan rasa sakit ringan dan sedang pada pasien (Marton, 1999).Obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID) tidak hanya memberikan efek analgesia yang baik tetapi juga mengurangi konsumsi obat opioid dan efek samping, seperti mual dan muntah (Kokki et al, 1999).Ketoprofen adalah turunan dari asam propionat dan merupakan NSAID yang sering digunakan pada orang dewasa di banyak negara.Efikasi dan keamanan ketoprofen intravena juga telah terbukti pada pasien (Nikanne, 1999) (Kokki et al, 1997).
​Analgesik oral mungkin tidak diserap dengan baik, oleh karena itu injeksi intravena dan suppositoria biasanya menjadi pilihan namun rute-rute pemberian ini belum dibandingkan secara klinis (Tramer, 1998). Penelitian yang dilakukan Kokki et al (1999) pada 123pasien pasca adenoidektomi pada anak-anak secara acak pemberian ketoprofen secara suppositoria dengan plasebo intravena, ketoprofen intravena dengan plasebo suppositoria, serta keduanya dengan plasebo intravena dan suppositoriamenunjukkan hasil tidak ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok ketoprofen. Studi lainmenunjukkan bahwa 73-93% ketoprofen diabosrbsi setelah pemberian suppositoria(Mortonet al, 1999).