E-learning Bedah FK UNS

You are not logged in. (Login)

Skip Main MenuSkip Calendar

Calendar

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31   
Skip Online Users

Online Users

(last 5 minutes)
None

Site news

Picture of dr Zico Paradigma
Tinjauan Pustaka: Clubfoot
by dr Zico Paradigma - Saturday, 14 July 2018, 12:10 AM
 

Clubfoot adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan deformitas umum dimana kaki berubah dari posisi yang normal. Clubfoot disebut juga sebagai Congenital Talipes Equino-Varus (CTEV) dan merupakan deformitas yang umum ditemukan pada bayi atau anak-anak. Deformitas ini meliputi fleksi dari pergelangan kaki, inversi dari tungkai, adduksi dari kaki depan, dan rotasi media dari tibia. Bila merujuk kepada terminologi CTEV berasal dari kata talipes dari kata talus (ankle) dan pes (foot), menunjukkan suatu kelainan pada kaki (foot) yang menyebabkan penderitanya berjalan pada ankle-nya. Sedang Equinovarus berasal dari kata equino (meng.kuda) dan varus (bengkok ke arah dalam/medial).

Link Mega:
https://mega.nz/#!f01kwKwS!QKnpTvyKGVbERd7wLXhGA1OG4YA00bc2qX_sq0H38jo

Link Website:
http://bedahfkuns-elearning.com/learning-system/mod/forum/post.php?forum=1

Nama : Saddalqous, dr
Judul : clubfoot (Tinjauan Pustaka)
Pembimbing : Nunik Agustriani, dr, SpB, SpBA

Pada
Hari/Tanggal : Selasa, 17 juli 2018
Jam : 08.00 WIB
Tempat : Ruang Pertemuan Bedah Anggrek IV

Demikian atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Kepala Program Studi

Amru Sungkar, dr, SpB, SpBP-RE
NIP. 19640101 198910 1 003

Penanya Wajib :
1. Danar Widyatmoko, dr
2. Uray Yessika Bianti Sugiat Asli, dr
3. Alia Adelina Dina Soraya, dr

Picture of dr Zico Paradigma
CASE REPORT Congenital Cystic Adenomatoid Malformation Type I With Neonatorum Septicemia In Newborn Widiyanto, Muhammad Kartika 1 1Residence of Surgical Department, Medical Faculty of Sebelas Maret University RSUD Dr. Moewardi, Surakarta
by dr Zico Paradigma - Wednesday, 11 July 2018, 05:33 AM
 
LAPORAN KASUS
Tipe Malformasi Kistik Adenomatoid Kubung bawaan I
Dengan Neonatorum Septicemia Pada Bayi Baru Lahir
Widiyanto, Muhammad Kartika 1
1Residence Departemen Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret
RSUD Dr. Moewardi, Surakarta
ABSTRAK

Pendahuluan: Kelainan adenomatoid kistik kongenital (CCAM) adalah kelainan paru bawaan karena bronkopulmonar atas proliferasi terjadi pada 1-4 dari 100.000 pada bayi laki-laki dan perempuan yang baru lahir dengan 70% dari itu adalah kista besar. Tahap awal CCAM sulit untuk didiagnosis pada kehamilan. Penatalaksanaannya terdiri atas pembedahan perinatal dan pascanatal sementara prognosisnya tergantung. Laporan kasus ini bertujuan untuk melakukan diagnosis dan manajemen CCAM.
Kasus: Bayi usia kehamilan 38 minggu dilahirkan di Rumah Sakit Dr Moewardi pada tanggal 20 April 2018 10.28 pagi melalui sectio caesaria dengan indikasi CCAM dengan ketuban pecah dini. Yang baru lahir adalah 3400 gram berat badan, 43cm panjang, 7cm lingkar lengan atas, 29cm lingkar kepala, 27cm lingkar dada, dengan Skor APGAR 7-8-9. Tidak ada komplikasi parah pada kehamilan. Pada usia kehamilan 26 minggu, kista di paru-paru kiri hadir di USG, sehingga ibu dirujuk ke subspesialisasi Fetomaternal. Presentasi dari 4 cm x 3 cm ukuran lobular hyperechoic cyst pada USG mengarah ke tipe I CCAM. Untuk menghindari infeksi dan pneumotoraks, pasien disarankan untuk memiliki drainase tertutup air setelah melahirkan.
Analisis: Pembedahan tidak dilakukan pada usia kehamilan prematur karena tidak ada kelainan kongenital utama yang ditemukan. Ukuran 4 cm x 3 cm kista di USG dan septa dalam kista pada radiologi mendukung tipe I CCAM. Inferior lobektomi paru-paru sinistra dilakukan. Seminggu setelah operasi, mediastinum bergeser ke sisi kontralateral, mengisi ruang mati kiri paru pasca lobektomi, sebagai teori menjelaskan bahwa lobektomi pada pasien usia 12 bulan dengan CCAM akan menghasilkan prognosis yang lebih baik.
Konklusi: Lobektomi dianggap sebagai pengobatan bedah tipe I CCAM untuk menghindari infeksi berulang dan pneumotoraks. Pendidikan mengenai prosedur, manfaat, dan risiko, dan manajemen lebih lanjut penting agar pasien bisa kooperatif.
Kata kunci: CCAM, lobektomi, pneumotoraks, pasca natal, bedah perinatal


Picture of dr Zico Paradigma
Pengaruh kemoterapi neoadjuvant pada sentinel lymph nodes payudara pasien dengan kanker payudara stadium I-II
by dr Zico Paradigma - Wednesday, 11 July 2018, 05:28 AM
 
BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang
Sentinel kelenjar getah bening biopsi (SLNB) untuk pasien dengan kanker payudara pertama kali oleh Krug et al pada tahun 1993.1 Kondisi getah bening membantu sebagai faktor-faktor prognostik kanker payudara, yang diperlukan untuk membantu. Untuk mengetahui kondisi Sentinel node ini yang berfungsi untuk memantau pengangkatan limfonodi, yang dapat dilakukan dengan SLNB atau diseksi kelenjar getah bening aksila, Namun, tindakkan diseksi kelenjar aksis dan operasi seperti limfedema atau defisit motorik dalam banyak kasus. Oleh karena itu, SLNB dilakukan untuk mendapatkan getah bening, dan baru-baru ini telah menjadi pengobatan standar dengan nodul negatif secara klinis.
Kelenjar getah bening aksila dapat menjadi kecil dan atrofi setelah kemoterapi. Secara Mikroskopis, kelenjar getah bening menunjukkan hilangnnya limfosit, terjadi fibrosis dan koleksi histiosit.5 Kemoterapi diduga menyebabkan kerusakan drainase limfatik karena penyusutan dan fibrosis dari pembuluh getah bening, dengan menginduksi degenerasi lemak karena proses apoptosis sel tumor. 6 Perubahan saluran limfatik dan sentinel nodes ini oleh kemoterapi dapat kita ketahui dengan melihat kondisi dari sentinel nodes bila kita injeksikan methilen blue, hal ini akan membirukan saluran limfatik dan sentinel nodes, bila saluran limfatik dan sentinel nodes terjadi perubahan oleh kemoterapi neoadjuvant, tidak akan menemukan warna biru pada sentinel nodes. Sehingga kita dapat melihat apakah penggunaan neoadjuvant kemoterapi (NAC) ini dapat mempengaruhi kondisi sentinel nodes payudara.

Picture of dr Zico Paradigma
Plastic surgery
by dr Zico Paradigma - Tuesday, 10 July 2018, 11:39 AM
 


RECONSTRUCTION OF URETHRAL DEFECT POST URETHROPLASTY : RE-URETHROPLASTY AND WOUND CLOSURE USING ADVANCEMENT FLAP (A CASE REPORT)

Bagus Aris Madani1, Amru Sungkar2


1 Sebelas Maret University,Resident of General Surgeon,Solo;
2 Sebelas Maret University, Plasticsurgeon,Solo

ABSTRACT

Introduction : Urethral defect is rare and usually a result of infectious complications, trauma or surgery. Even after complex hypospadia repair, it is reported in no more than 10% of cases. Repair of the defect is individualized, it may involve the tehniques employed in hypospadias surgery or more complex reconstruction of the distal urethra and glans.
A Case Report : Male patient, 12 years old, came with his family with chief complaints of urination not from the tip of the genital. History of uretroplasty at Private Hospital in Surakarta at age of 6 years. From physical examination, the penis region had been circumcised. On the ventral side, there was a defect of ± 4 mm from distal of coronary sulcus with the measurement of 1x0.5 cm.
Discussion : Urethroplasty is generally well tolerated with a high rate of success, serious complications occur in fewer than ten percent of patients. Urethral defect is rare complication of penile and urethral surgery. Literally hundred of techniques have been reported over the years. Penile skin flaps, when used correctly, are a reliable for urethral reconstruction. In case of an isolated defect with intact spongiosum, repair with local flaps is sufficient. Flap provides the advantage of rich vascularity and flexibility. A flap refers to the tissue transferred with the original intact blood supply, while the graft refers to the tissue removed from the donor site without the original blood supply and relies on the formation of a new circulation through a process called "take. This becomes an option for the improvement of urethral defect. The flap maintains postoperative flexibility with little tendency to shrinkage and re-stricture.
Conclusion : We reported a boy 12 years old was diagnosed urethral defect post urethroplasty. We performed urethroplasty and closed the wound using local advancement flap. Post operation follow up the wound healed without presence any fistula anymore.

Picture of dr Zico Paradigma
Reconstruction of Urethral Defect Post Urethroplasty : Re- Urethroplasty and Wound Closure Using Advancement Flap
by dr Zico Paradigma - Tuesday, 10 July 2018, 11:28 AM
 


RECONSTRUCTION OF URETHRAL DEFECT POST URETHROPLASTY : RE-URETHROPLASTY AND WOUND CLOSURE USING ADVANCEMENT FLAP (A CASE REPORT)

Bagus Aris Madani1, Amru Sungkar2


1 Sebelas Maret University,Resident of General Surgeon,Solo;
2 Sebelas Maret University, Plasticsurgeon,Solo

ABSTRACT

Introduction : Urethral defect is rare and usually a result of infectious complications, trauma or surgery. Even after complex hypospadia repair, it is reported in no more than 10% of cases. Repair of the defect is individualized, it may involve the tehniques employed in hypospadias surgery or more complex reconstruction of the distal urethra and glans.
A Case Report : Male patient, 12 years old, came with his family with chief complaints of urination not from the tip of the genital. History of uretroplasty at Private Hospital in Surakarta at age of 6 years. From physical examination, the penis region had been circumcised. On the ventral side, there was a defect of ± 4 mm from distal of coronary sulcus with the measurement of 1x0.5 cm.
Discussion : Urethroplasty is generally well tolerated with a high rate of success, serious complications occur in fewer than ten percent of patients. Urethral defect is rare complication of penile and urethral surgery. Literally hundred of techniques have been reported over the years. Penile skin flaps, when used correctly, are a reliable for urethral reconstruction. In case of an isolated defect with intact spongiosum, repair with local flaps is sufficient. Flap provides the advantage of rich vascularity and flexibility. A flap refers to the tissue transferred with the original intact blood supply, while the graft refers to the tissue removed from the donor site without the original blood supply and relies on the formation of a new circulation through a process called "take. This becomes an option for the improvement of urethral defect. The flap maintains postoperative flexibility with little tendency to shrinkage and re-stricture.
Conclusion : We reported a boy 12 years old was diagnosed urethral defect post urethroplasty. We performed urethroplasty and closed the wound using local advancement flap. Post operation follow up the wound healed without presence any fistula anymore.


Keywords : hypospadia, urethroplasty, urethral defect, reuretrhoplasty, local advancement flap
https://mega.nz/fm/eosVWRSa

Skip LoginSkip Latest News

Latest News

  • 14 Jul, 00:10
    dr Zico Paradigma
    Tinjauan Pustaka: Clubfoot more...
  • 11 Jul, 05:33
    dr Zico Paradigma
    CASE REPORT Congenital Cystic Adenomatoid Malformation Type I With Neonatorum Septicemia In Newborn Widiyanto, Muhammad Kartika 1 1Residence of Surgical Department, Medical Faculty of Sebelas Maret University RSUD Dr. Moewardi, Surakarta more...
  • 11 Jul, 05:28
    dr Zico Paradigma
    Pengaruh kemoterapi neoadjuvant pada sentinel lymph nodes payudara pasien dengan kanker payudara stadium I-II more...
  • 10 Jul, 11:39
    dr Zico Paradigma
    Plastic surgery more...
  • 10 Jul, 11:28
    dr Zico Paradigma
    Reconstruction of Urethral Defect Post Urethroplasty : Re- Urethroplasty and Wound Closure Using Advancement Flap more...
Skip Recent Activity

Recent Activity

Activity since Saturday, 21 July 2018, 08:03 AM

Nothing new since your last login

Skip Visitor

Visitor

Flag Counter